KH Bisri Mustofa Menjadi Pejuang Gigih dan Macan Podium

Menjadi Pejuang Gigih dan Macan Podium

Darah pejuang agaknya sudah kental dalam diri Mbah Bisri. Sejak era penjajahan Belanda, Jepang, era kemerdekaan, sampai akhir hayatnya, beliau adalah pejuang yang gigih. Setelah Indonesia merdeka, Mbah Bisri sangat bersemangat untuk ikut membangun bangsa ini. Dalam kancah politik beliau disegani oleh semua kalangan. Sebelum NU keluar dari Masyumi, Mbah Bisri merupakan aktivis Masyumi yang gigih berjuang. Akan tetapi setelah NU menyatakan keluar dari Masyumi, beliau total berjuang untuk NU. Tahun 1955 Mbah Bisri menjadi anggota konstituante, wakil dari Partai NU. Setelah tahun 1959 terbit Dekrit Presiden yang membubarkan Dewan Konstituante dan dibentuknya Majelis Permusyawaratan Rakyat, Mbah Bisri masuk di dalamnya. Mbah Bisri juga dikenal sebagai seorang orator handal, Singa podium.

Dalam setiap kampanye beliau selalu menjadi juru kampanye andalan dari partainya. Menurut KH Syaifudin Zuhri, teman seperjuangan di NU, yang mantan Menteri Agama, Mbah Bisri merupakan sosok yang cukup pandai berpidato, dengan mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit, menjadi gamblang dan mudah diterima oleh orang desa maupun kota, sesuatu yang membosankan, menjadi mengasyikkan, kritik-kritiknya tajam, meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan. Pihak yang terkena kritik tidak marah karena disampaikan dengan sopan dan menyenangkan. Selain itu, beliau mampu menghibur dengan humor-humornya yang membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal.

Di samping politisi gigih dan singa podium, Mbah Bisri juga dikenal sebagai seorang pelobi dan negosiator yang sangat handal. Pergulatan di dunia politik tetap dijalani Mbah Bisri hingga era pemerintahan orde baru. Ketika semua partai Islam (termasuk NU) harus berfusi ke Partai persatuan Pembangunan (PPP), Mbah Bisri terlibat aktif membesarkan PPP. Beliau menjadi tokoh yang disegani di partai tersebut.

Kisah Beliau

Penting

Kyai Bisri Mustofa menyebar sejumlah santri utusan untuk menemui kyai-kyai Rembang. Mereka ditugasi mengundang para kyai itu agar hadir di kediaman Kya i Bisri pada waktu yang ditentukan, untuk suatu KEPERLUAN PENTING. Maka terjadilah, pada waktu yang ditentukan itu para kyai berkumpul di Leteh, Rembang. “Keperluan penting apa ini, ‘Sri?” Mbah Kyai Ma’shum bertanya. “Nanti lah, ‘Yi” jawab Kyai Bisri, “dahar-dahar dulu…”

Santri mengusung nampan nasi dengan sambal terong di tengahnya, menyajikannya di hadapan para kyai. “Monggo… monggo…” Kyai Bisri mempersilahkan. Para kyai pun kembul-terong-gosong dengan nikmat sekali, diselingi obrolan-obrolan ringan dan guyon-guyon nostalgia mengenang waktu masih mondok. Tanpa terasa, nampan licin tandas dan semua merasa kenyang.

Dihiasi kepulan asap rokok yang berlenggak-lenggok, para kyai meneruskan obrolan dan candaan mereka, ditingkahi gelak-tawa yang gayeng sekali…. hingga akhirnya salah-seorang kembali teringat, “Lho… ini keperluan pentingnya kok nggak mulai-mulai?” “Iya, ‘Sri”, Mbah Ma’shum pun menimpali, “sekarang sudah makan, lekaslah… keperluan pentingnya apa?”

Menyedot rokok dalam-dalam dan menghembuskannya dengan nikmat, Kyai Bisri menjawab, “Kumpul-kumpul silaturrahim begini ini masa tidak penting?

Sumber: almihrab.com

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar