Pendidikan KH Bisri Mustofa

Pendidikan Masa Kecil

Mbah Bisri belajar dan menekuni ilmu-ilmu agama di pesantren Kasingan Rembang yang diasuh oleh Kiai Cholil Kasingan Rembang, di pesantren ini Mbah Bisri muda menekuni ilmu-ilmu agama terutama ilmu nahwu, dengan kitab Alfiah sebagai pegangan utamanya.

Selain di pesantren Kasingan, Mbah Bisri juga mengaji pasanan (pengajian pada bulan puasa) di pesantren Tebuireng Jombang, asuhan KH Hasyim Asy’ari

Pendidikan di Mekah

Untuk memperdalam ilmunya, Mbah Bisri juga mengaji di kota suci Mekah tahun 1936 dan belajar kepada Kiai Bakir, Syaikh Umar, Syaikh Umar Khamdan al-maghribi, Syaikh Maliki, Sayyid Amin, Syaikh Hasan Masysyath, dan Kiai Muhaimin.

Sanad Keilmuan Beliau

  • Kiai Cholil pesantren Kasingan Rembang
  • Kiai Bakir
  • Syaikh Umar
  • Syaikh Umar Khamdan al-maghribi
  • Syaikh Maliki
  • Sayyid Amin
  • Syaikh Hasan Masysyath
  • Kiai Muhaimin

Penerus Beliau

Setelah wafatnya Kiai Cholil, Mbah Bisri ikut aktif mengajar di pesantren milik mertuanya tersebut di Kasingan Rembang. Selanjutnya sewaktu pesantren Kasingan bubar, seiring pendudukan Jepang, Mbah Bisri meneruskan pesantren tersebut dengan mendirikan pesantren di Leteh Rembang yang kemudian diberi nama, pesantren Raudhatut Thalibin.

Pernikahannya dengan Ma’rufah dikaruniai delapan orang anak, yaitu;

  • Cholil (lahir 1941)
  • Mustofa (lahir 1943)
  • Adieb (lahir 1950)
  • Faridah (lahir 1952)
  • Najichah (lahir 1955)
  • Labib (lahir 1956)
  • Nihayah (lahir 1958)
  • Atikah (lahir 1964).

Dalam pernikahannya dengan Umi Atiyah tersebut, Mbah Bisri dikaruniai satu orang putera laki-laki bernama Maemun.

Jasa dan Karya Beliau

Produktif Menulis

Di tengah kesibukannya mengajar di pesantren, menjadi penceramah, bahkan politisi. Mbah Bisri tetap menyempatkan diri untuk menulis,, dan waktu luangnya, tidak dilewatkannya begitu saja, bahkan di kereta, di bus, di mana saja, beliau sempatkan untuk menulis. Banyak kitab, baik bertema berat, maupun ringan,lahir sebagai karya tulisnya. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah:

  • tafsir Al-Ibriz, yang disusun kembali dari penjelasan pengajian beliau oleh tiga orang santri, yaitu : Munshorif, Maghfur, dan Ahmad Shofwan (sekarang tinggal di Benowo Surabaya)
  • kitab Al-Usyuthy
  • terjemahan kitab Imrithy
  • kitab Ausathul Masalik terjemahan kitab Alfiyah Ibnu Malik
  • Apa, Bagaimana dan Siapa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah?

Tidak hanya tema-tema yang berat saja yang ditulis oleh Mbah Bisri, tema-tema yang ringan pun ternyata juga beliau tulis, seperti:

  • buku kumpulan anekdot Kasykul
  • Abu Nawas
  • novel berbahasa Jawa Qohar lan Sholihah
  • naskah drama Nabi yusuf lan Siti Zulaikha
  • Syiiran Ngudi Susilo

dan masih banyak karya-karya lain yang berhasil ditulisnya.

Dalam menulis, Mbah Bisri mempunyai ‘falsafah’ yang menarik sebagaimana dikisahkan oleh Gus Mus, salah seorang putra Mbah Bisri, bahwa pernah suatu ketika, beliau berbincang-bincang dengan salah seorang sahabatnya, yakni Kiai Ali Maksum Krapyak, tentang tulis-menulis ini. “Kalau soal kealiman, barangkali saya tidak kalah dari sampeyan, bahkan mungkin saya lebih alim,” kata Kiai Ali Maksum ketika itu, dengan nada kelakar ,seperti biasanya, “tapi mengapa Sampeyan bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan. Baru separo atau sepertiga, sudah macet tak bisa melanjutkan.”. Dengan gaya khasnya, masih cerita Gus Mus, Mbah Bisri menjawab: “Lha soalnya Sampeyan menulis lillahi ta’ala sih!” Tentu saja jawaban ini mengejutkan Kiai Ali. “Lho Kiai menulis kok tidak lillahi ta’ala; lalu dengan niat apa?” Mbah Bisri menjawab: “Kalau saya, menulis dengan niat nyambut gawe. Etos, saya dalam menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu, walaupun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit.

Dia menemui tamunya sambil terus bekerja, soalnya bila dia berhenti menjahit ,periuknya bisa ngguling,saya juga begitu, kalau belum-belum, sampeyan sudah niat yang mulia-mulia, setan akan mengganggu sampeyan dan pekerjaan sampeyan tak akan selesai..”katan Mbah Bisri..”… Lha nanti kalau tulisan sudah jadi, dan akan diserahkan kepada penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia, linasyril ‘ilmi atau apa. Setan perlu kita tipu.” Lanjut Mbah Bisri sambil tertawa. (Gus Mus dalam Taqdim buku Mutiara Pesantren Perjalanan Khidmah KH Bisri Mustofa, LkiS, Jogja, 2005, hlm. xxi-xxii).

 

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar