KH Ihsan Jampes

Kyai Ihsan ibn Dahlan al-Jampesi atau lebih akrab dipanggil Kyai Ihsan Jampes adalah sosok Kyai yang amat disegani. Dalam usia yang relatif masih muda (sekitar 31 tahun) beliau telah menyusun sebuah kitab Tasawuf yang signifikan, Siraj ath-Thalibin, setebal 800 halaman yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali. Kitab ini menjadi salah satu bacaan wajib di banyak pesantren di Jawa dan Madura. Kyai Ihsan diyakini termasuk Wali Allah yang dikaruniai ilmu ladunni.

Kyai Ihsan Jampes, lahir tahun 1901, adalah putra dari Kyai Muhammad Dahlan dari Pesantren Jampes, Kediri. Beliau memperoleh pendidikan awal dari ayahnya sendiri. Pada masa remajanya Kyai Ihsan gemar menonton pertunjukan wayang, dan dikenal sebagai anak yang agak nakal. Melalui kisah-kisah wayang inilah Kyai Ihsan menyerap pelajaran tentang berbagai karakter manusia. Namun tak urung kegemaran Kyai Ihsan muda pada tempat-tempat keramaian yang cenderung dekat dengan tindak maksiat ini menggelisahkan keluarganya. Namun masa-masa kenakalan ini tak berlangsung lama karena Kyai Ihsan lekas bertobat dan kemudian mendalami laku Tasawuf. Konon, “pertobatan” Kyai Ihsan ini terkait dengan mujahadah neneknya, Nyai Isti’anah. Menurut kisah, sang nenek berziarah ke makam kakeknya, Ki Ageng Yahuda, seorang tokoh sakti yang juga penyebar Islam di daerah Pacitan hingga Ponorogo, yang masih keturunan Panembahan Senopati Mataram. Di makam Ki Ageng Yahuda inilah Nyai Isti’anah berdoa, “Ya Allah, kalau anak ini [pemuda Ihsan] tidak lekas taubat, semoga ia tak diberi umur panjang.” Lalu dikisahkan bahwa pemuda Ihsan pada suatu malam bermimpi bertemu dengan Ki Ageng Yahuda yang mendatanginya dengan membawa sebongkah batu besar. Kakek itu meminta pemuda Ihsan untuk bertaubat, namun pemuda Ihsan membantah dan meminta kakek itu tak mencampuri urusannya. Akhirnya Ki Ageng Yahuda menghantam kepala pemuda itu dengan batu hingga isi kepalanya berhamburan. Sejak mengalami mimpi ini pemuda Ihsan mulai sering berkhalwat dan melakukan pembersihan hati.

Kyai Ihsan Jampes melanjutkan pendidikannya ke beberapa kyai lain. Di antaranya adalah Kyai Khozin dari Pesantren Bendo Pare, Kediri. Kemudian belajar tata bahasa Arab kepada Syeikh KHOLIL BANGKALAN, Madura, K. H. Dahlan Semarang, dan K. H. Ma‘shum dari Pondok Pesantren Punduh Magelang. Beliau juga sempat berguru Tasawuf kepada Kyai SALEH DARAT Semarang. Tetapi Kyai Ihsan tak pernah menetap lama di satu pesantren. Setiap kali menuntut ilmu di suatu pesantren, beliau tak pernah mengaku sebagai anak Kyai Dahlan Jampes. Beliau berpenampilan seperti orang pedesaan lugu, dan bahkan oleh santri-santri lainnya dijadikan pesuruh untuk urusan dapur. Kyai Ihsan dengan senang hati melayani teman-teman santrinya. Namun ketika identitas aslinya sebagai anak kyai besar terkuak, dan santri lain mulai menghormatinya, beliau akan segera pergi dari pesantren itu. Selama menuntut ilmu, Kyai Ihsan sempat menikah dan bercerai hingga empat kali – kemungkinan istri-istrinya tidak tahan karena Kyai Ihsan lebih menekuni keilmuan.

Setelah ayahandanya meninggal, Kyai Ihsan pun pulang ke Pesantren Jampes untuk meneruskan kepemimpinan ayahnya. Selain mendalami ilmu, Kyai Ihsan juga sering melakukan ziarah ke makam-makam Awliya Allah. Makam yang sering dikunjunginya antara lain Kyai Wasil, Setonogedong, Kyai Mursyad dan Kyai Ihsan Pethuk. Kyai Ihsan Jampes meninggal dalam usia 52 tahun, pada tahun 1952.

Ajaran, karya dan karamah

Walaupun dikenal luas sebagai sufi yang telah menempati kedudukan Wali Allah, dan sehari-hari mengajar berbagai kitab kuning, baik fiqh maupun Tasawuf, Kyai Ihsan Jampes sangat mengapresiasi berbagai bentuk kesenian. Dalam tradisi pesantren ada ritual pembacaan Maulid Diba atau Barzanji, namun Kyai Ihsan tak jarang menggantinya dengan pembacaan Serat Anbiya, sebuah serat berisi ajaran spiritual berbahasa Jawa karangan pujangga Yosodipura II. Karena kegemarannya menonton wayang sejak muda, beliau bukan hanya paham betul kisah dan karakter wayang, tetapi juga piawai dalam mendalang.

Pada usia 29 tahun Kyai Ihsan telah menunjukkan kelebihan ilmu dan kecerdasannya dengan menulis kitab Tashriful-Ibarat, sebuah kitab ilmu falak. Kemudian pada usia sekitar 31 tahun, selama masa menduda, Kyai Ihsan menyelesaikan salah satu karya monumentalnya, Siraj ath-Thalibin yang terbit pada tahun 1936. Kitab tersebut juga diterbitkan di Mesir dan menggemparkan dunia intelektual di sana. Kitab Siraj ath-Thalibin dikaji di beberapa universitas di Timur Tengah, bahkan Raja Faruk dari Mesir meminta Kyai Ihsan Jampes menjadi warga kehormatan Mesir dan diajak untuk menjadi pengajar di Universitas al-Azhar. Namun Kyai Ihsan Jampes menolaknya dengan halus sebab beliau lebih memilih mengajar di Pesantren Jampes di Kediri. Kitab Siraj ath-Thalibin ini bahkan menjadi rujukan wajib di berbagai universitas di Eropa, Amerika dan Kanada pada jurusan teologi dan teosofi.

Karya lainnya yang tak kalah apik adalah Manahij al-Imdad, sebuah syarah (ulasan) atas kitab Irsyad al-Ibad karya Syekh Zainuddin Malibari. Kitab al-Imdad ini tebal sekali, sekitar 1088 halaman yang terdiri dari dua juz. Bahkan menurut beberapa ulama, kitab al-Imdad ini bukan lagi syarah, tetapi sebuah kitab tersendiri karena isinya jauh lebih luas dan mendalam ketimbang kitab yang diulas, yang hanya setebal 118 halaman.

Kyai Ihsan Jampes tak hanya menguasai fiqh dan Tasawuf, tetapi juga ilmu falak (astronomi). bahkan karya yang pertama adalah dalam bidang ini yang berjudul Tashrihul Ibarat, yang ditulis ketika masih berusia 30 tahun. Keahliannya dalam falak bahkan telah mencapai pada taraf kenujuman, tetapi ilmu itu tidak pernah digunakan. Sementara kitab yang terakhir ditulis adalah Irsyadul Ikhwan, yang yang hingga saat ini belum diterbitkan secara luas. Walaupun Kyai Ihsan tidak pernah belajar ke Mekah, tetapi kemampuan berbahasa Arab sangat sempurna, sehingga bisa menulis kitab sangat mengagumkan, dengan bahasa yang indah dan padat sekaligus mendalam, sesuai prinsip penulisan sastra Arab qalla kalamuhu wa kathura ma’nahu (sedikit kata penuh makna). Kiai Hasyim Asy’ari sangat mengaguminya dan menempatkan sejajar dengan ulama mujtahid yang lain, sehingga menyarankan santrinya untuk mengkaji kitab-kitabnya. Karya lainnya yang cukup unik adalah kitab fiqh yang membahas hukum minum kopi dan merokok – Irshad al-ikhwan fi Bayan al-Ahkam Shurb al-Qahwah wa ad-Dukhan.

Seperti Wali Allah lainnya, Kyai Ihsan memiliki kemampuan khawariq al-adah (karamah), yang sebagian bersumber dari ilmu ladunni yang dianugerahkan Allah kepadanya. Misalnya, melalui kasyaf rabbani-nya, beliau berhasil menyelamatkan seorang gadis dari tempat maksiat. Namun yang paling menonjol adalah karamah di bidang ilmu agama. Dalam rentang hidupnya yang tidak terlalu lama (hanya sekitar 50 tahun), beliau bisa menyusun banyak karya yang monumental dan bermutu tinggi, yang sebagian tebal. Jika diingat Kyai Ihsan adalah sosok yang juga sibuk mengajar dan berdakwah, dan saat itu belum ada komputer, prestasi penulisan ini tentu amat mengagumkan – dan tidak banyak orang yang mendapat karunia berkah umur yang begitu mulia ini.

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar