Alqamah bin Qais al Nakhai

Nama dan Nasab

Dia adalah Abu Syibil Alqamah bin Qais bin Abdullah bin Malik bin Alqomah bin Salaman bin Kuhl, An-Nakha’i Al-Kufi. Dia adalah paman dari Al-Aswad bin Yazid dan saudaranya, Abdurrahman. Paman dari ahli fiqh dari Irak, Ibrahim An-Nakha’i.
Dia dikenal sebagai ahli fiqh, ulama, qari’ Kufah, imam yang hafizh, dermawan, mujtahid dan terpandang.

Kelahiran Beliau

Alqamah dilahirkan pada masa kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan termasuk seorang Mukhadhram yaitu orang-orang yang mengalami hidup pada zaman jahiliyah dan hidup pada zaman Nabi Muhammad dalam keadaan Islam, tetapi tidak sempat menemui Nabi dan mendengarkan hadits darinya secara langsung. Lalu dia pindah dari Kufah untuk mencari ilmu dan berjihad. Setelah itu ia menetap di Kufah, berguru kepada Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, sehingga dia menguasai ilmu dan amal sampai para ulama belajar fiqh darinya dan ia pun menjadi tokoh terkenal.
Guru-gurunya
Dia pernah meriwayatkan dari Umar bin Al-Khatab, Utsman bin Afan, Ali bin Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Darda, Khalid bin Walid, Hudzaifah bin Al-Yaman, Khabab bin Al-Arts, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq, Sa’ad bin Abi Waqash, Amar bin Yasir, Abu Mas’ud Al-Badri, Abu Musa Al-Asy’ari, Ma’qil bin Sinan, Salamah bin Yazid Al-Ja’fi, Syuraih bin Arthah, Qais bin Marwan, dan dari para shahabat lainnya.

Murid-muridnya

Di antara yang meriwayatkan hadits darinya adalah Abu Wail, Asy-Sya’bi, Ubaid bin Nadhilah, Ibrahim An-Nakha’i, Muhammad bin Sirin, Abu Dhuha Muslim bin Shabih, Ibrahim bin Suwaid An-Nakha’i, Abu Zhibyan Hashin bin Jundub An-Nakha’i,dan yang lainnya.

Pujian Para Ulama

Dia belajar al-Qur’an dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Selain itu banyak para imam yang belajar darinya, di antaranya Ibrahim dan Asy-Sya’bi. Dia ditawari untuk menjadi imam dan mufti setelah Ali dan Ibnu Mas’ud. Dia juga disejajarkan dengan Ibnu Mas’ud dalam memberikan petunjuk, bimbingan, penjelasan, dan kepribadiannya. Murid-muridnya dan beberapa orang sahabat sering bertanya kepadanya dan belajar fiqh darinya.

Ibnu al-Madini berkata, “Tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang mempunyai sahabat-sahabat yang hafal darinya dan melaksanakan perkataannya dalam fiqh kecuali tiga orang, yaitu Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Abbas. Sedangkan orang yang paling tahu tentang Ibnu Mas’ud adalah Alqamah, Al-Aswad, Abidah, dan Al-Harits.”
Diriwayatkan dari Umarah bin Umair, ia berkata, “Abu Ma’mar berkata kepada kami, tunjukkan kepada kami orang yang paling serupa dengan Abdullah dalam petunjuk, penjelasan dan kepribadian!” kami lalu berjalan bersamanya hingga kami duduk di hadapan Alqamah.”
Ibrahim meriwayatkan dari Alqamah, bahwa ketika dia datang ke Syam, lalu masuk masjid Damaskus, dia berdoa, “Ya Allah, berilah kami rezki seorang teman yang shalih”. Dia lalu datang dan duduk di depan Abu Ad-Darda’ lantas berkata, “Dari mana kamu?” Alqamah menjawab “Dari Kufah”. Abu Ad-Darda’ berkata, “Bagaimana menurutmu ketika kamu mendengar Ibnu Ummu Abd, membaca firman Allah, “Walaili idzaa yaghsyaa?”

Diriwayatkan dari Muhammad, dia berkata, “Sahabat-sahabat Abdullah ada lima yang semuanya cacat, mereka adalah Abidah yang buta, Masruq yang bungkuk, Alqamah yang pincang, Syuraih yang botak, dan Al Harits yang buta.”
Diriwayatkan dari Alqamah dia berkata, “Ketika Abdullah diberi minuman, dia berkata, ‘Berikan kepada Alqamah, Masruq dan yang lain’. Mereka kemudian berkata, ‘Aku sedang puasa’, Abdullah berkata (membaca ayat yang artinya), ‘Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),’ (Qs. An-Nur : 37)”.

Ibrahim berkata, “Alqamah menghatamkan al-Qur’an setiap lima hari sekali, sedang Al-Aswad mengkhatamkannya setiap enam hari sekali, dan Abdurrahman bin Yazid mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali.”

Diriwayatkan dari Syaqiq, dia berkata, “Ketika Ibnu ziyad melihatku bersama Masruq, dia berkata, ‘Jika kalian pergi maka temuilah aku !’ setelah itu aku menemui Alqamah dan berkata, ‘Kamu tidaka akan mendapatkan apa-apa dari kekayaan dunia mereka kecuali mereka akanmendapatkan dari agamamu sesuatu yang lebih utama darinya’.”
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, bahwa kami pernah bertanya kepada Alqamah, ‘Bagaimana seandinya kamu ditanya ketika engkau selesai shalat di masjid lalu kami duduk bersamamu?’ Dia menjawab, ‘Aku sebenarnya tidak suka dipanggil, ‘Ini Alqamah’.’
Diriwayatkan dari Alqamah dia berkata, “Aku seorang yang oleh Allah diberi suara yang bagus dalam membaca al-Qur’an. Suatu ketika Ibnu Mas’ud datang kepadaku, lalu aku membacakan al-Qur’an kepadanya. Jika aku berhenti membaca, dia berkata, ‘bacalah lagi’. Karena kami mendengar Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik suara adalah suara yang digunakan untuk menghiasi Al-Qur’an.”

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, bahwa Abdullah berkata, “Aku tidak membaca sesuatu atau mengetahui sesuatu kecuali Alqamah telah membacanya atau mengetahuinya.”
Diriwayatkan dari Qabus bin Abu Dzabyan, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada ayahku, ‘Untuk apa anda datang menemui Alqamah dan meninggalkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ?’ dia menjawab, ‘Aku melihat beberapa orang sahabat Nabi bertanya kepada Alqamah dan meminta fatwa darinya’.”

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, dia berkata, “Ketika ada yang berkata kepada Ibnu Mas’ud, ‘Alqamah bukanlah orang yang paling bagus bacaannya di antara kami’. Ibnu Mas’ud pun berkata, ‘Tidak, demi Allah, dia Qari’ kalian yang terbaik’.”
Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dia berkata, “Jika Ahlul Bait diciptakan untuk surga, maka yang termasuk Ahlul Bait adalah Alqamah dan Al Aswad.”

Diriwayatkan dari Alqamah, bahwa dia pernah berwasiat seraya berkata, “Jika ajal menjemputku maka duduklah satu orang di sisiku untuk menuntunku membaca laa ilaaha illallah dan bawalah mayatku dengan segera ke dalam lubang kuburku, serta jangan beritakan kematianku kepada orang-orang, karena aku takut hal itu akan menimbulkan tangisan seperti tangisan jahiliyah.”

Wafat Beliau
Alqamah meninggal dunia pada tahun 62 Hijriah.
Syiar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi, 4/53 – 61.

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar