Kepribadian KH. Hasyim Zaini

KH. Hasyim Zaini merupakan sosok ulama yang sangat menyanjung akhlakul karimah. Kepada para santrinya, beliau selalu berpesan agar selalu menjaga etika. Sebab, Rasulullah mendapatkan gelar al-Amin karena akhlakul karimah, sehingga disenangi dan disegani kawan maupun lawan. Kiai Hasyim juga merupakan sosok ulama yang lemah-lembut. Beliau tidak pernah marah kepada siapa pun. Atau meski pun marah, tidak kelihatan. Ini seperti yang dialami oleh salah satu santrinya, Hasyim Syamhudi. Ceritanya, ketika itu di bulan Ramadhan, kegiatan libur dan santri banyak yang pulang. Syamhudi yang kala itu menjadi pengurus pesantren, bersama beberapa sahabatnya pergi ke kota Kraksaan untuk menonton bioskop yang memutar cerita perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman. Seusai nonton bioskop, Syamhudi dipanggil Kiai Hasyim. Mendapat panggilan tersebut, Syamhudi terkejut. Karena dia yakin bahwa Kiai Hasyim tidak mengetahui kepergiannya menonton bioskop. Tapi akhirnya dia harus meghadap kepada Kiai Hasyim. Di kediamannya, Kiai Hasyim bertanya; “Lebur (bagus) film yang ananda tonton?” “Iya,” jawab Syamhudi sambil menunduk rapat-rapat. “Bagaimana baiknya?” “Cerita tentang perjuangan seorang santri yang berdakwah di daerah pedalaman” “Begini, apa pun yang benar tapi jika menimbulkan fitnah, itu juga termasuk dosa. Misalkan, ada seorang ustadz membeli kacang. Kacang tersebut halal. Cara membelinya juga dengan jalan yang halal, dari uang hasil jerih-payahnya sendiri.

Tapi kemudian, ustadz tersebut memakan kacang itu sambil berjalan. Tidak duduk. Nah, begitu juga dengan menonton bioskop. Film itu tidak haram. Gedung bioskop juga tidak haram. Tapi yang perlu dipertimbangkan adalah opini masyarakat, bahwa film dan bioskop itu nuansanya jelek. Sementara anda adalah pimpinan, baik di sini, di Tanjung dan di Kraksaan,” ujar Kiai Hasyim. Mendengar teguran tersebut, Syamhudi kemudian mohon maaf dan siap menerima hukuman dari Kiai Hasyim. Akhirnya, Kiai Hasyim menyuruh Syamhudi untuk berdiri di depan kediaman beliau sambil membaca istighfar sebanyak 1000 kali.

Sementara itu, contoh teladan tindakan yang beliau berikan di antaranya adalah, suatu waktu di pesantren ada kegiatan membakar bata mentah untuk dijadikan bahan material sebuah bangunan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 WIB. Tapi santri-santri belum juga tergerak untuk segera mengangkut bata mentah dan membakarnya. Tiba-tiba kemudian, Kiai Hasyim datang ke tempat terletaknya bata-bata mentah dan mengangkutnya sendiri. Melihat Kiai Hasyim mengangkut bata, spontanitas para santri yang semula santai, kemudian berlarian menuju bata mentah dan ramai-ramai mengangkut serta membakarnya.

Lebih jauh, Kiai Hasyim merupakan sosok pengasuh yang senantiasa akrab dengan santrinya. Misalkan, tiba-tiba si santri dipegang tangannya dan diajak ngobrol sambil jalan-jalan. Beliau juga kadang kala bercanda kepada santrinya. Sebagai pendidik, Kiai Hasyim juga sangat sabar dan telaten. Misalkan ketika mengajar ilmu falaq di MANJ, selain memberikan teori, beliau juga mengajak para murid untuk praktek langsung tentang bagaimana cara mengetahui waktu. Ini juga beliau terapkan ketika mengajar kitab kuning (klasik) kepada santri-santrinya di Masjid. Sementara itu, sebagai seorang ulama beliau sangat menghromati tamu dan tawadu’. Tiap tamu yang datang, selalu beliau temani, baik ketika membicarakan sesuatu hingga mengajak tamu tersebut makan bersama.

Etika mulia beliau juga tampak dari perilaku beliau. Jika ada seorang tamu yang menunduk di hadapan beliau, maka beliau lebih menundukkan kepalanya dari sang tamu. Sementara jika tamu itu mengundurkan diri, beliau selalu mengantarkanya sampai si tamu hilang dari pandangan mata, baru kemudian beliau masuk ke kediamannya. Lebih jauh, meski beliau dalam sebuah perjalanan tapi ketika di tengah jalan beliau bertemu dengan seseorang yang beliau kenal, beliau selalu berhenti, turun dari kendaraan dan menghampiri orang tersebut untuk berjabat tangan dan menanyakan kabarnya.

Atas kepribadian Kiai Hasyim ini, tidak mengherankan jika masyarakat sekitar pesantren sangat mengagumi Kiai Hasyim sebagai ulama yang berbudi luhur. Pengakuan tentang kemuliaan akhlak dan kelembutan kepribadian Kiai Hasyim juga datang dari Kiai Mahrus, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. “Kiai Hasyim itu alim dan akhlaknya mulia. Siapa pun tamunya, beliau selalu menghormatinya,” ujarnya. Selain Kiai Mahrus, Al-Habib Al-Imam bin Abdullah bin Abdul Qodir bi Al-Faqih Al-Alawiy, juga mengatakan bahwa, “KH. Moh. Hasyim Zaini orang yang punya adat tata krama yang mulia.” Pengakuan yang sama juga datang dari beberpa alim-ulama. Ini seperti diceritakan Kiai Zainullah Adhim, santri dari ayahandanya. “Berangkat haji, pulang-pergi Kiai Hasyim bersama KH. Musthofa Lekok Pasuruan. Beliau selalu menjadi imam salat. Karena menurut Kiai Mustofa, Kiai Hasyim lebih berhak menjadi imam salat berjama’ah daripada beliau sendiri. Sesampainya di Jeddah, Kiai Hasyim langsung dipapah dan digendong oleh As-Sayyid Amin Al-Kuthbiy sambil berkata, inilah As-Syaikh Muhammad Hasyim bin Zaini dari Jawa Indonesia.

Mendengar sanjungan tersebut, Kiai Hasyim menjawab, Alhamdulillah, aku sudah kenal dengan semua macam-macamnya wali Allah,” kenang Kiai Zainullah. Selain itu, KH. Hasan Saiful Rijal juga mengakui akhlak dan budi pekerti beliau ketika ikut menjadi pengiring di maqbarah bahwa, “Kiai Hasyim adalah ulama sangat mulia akhlaknya.” Demikianlah kepribadian Kiai Hasyim, beliau merupakan sosok ulama yang berakhlakul karimah, lemah-lembut dan sangat pemaaf. Bagi beliau, prinsip hidup yang paling baik adalah rela dengan segala apa yang telah dibagikan/dianugerahkan oleh Allah. Lebih jauh, Kiai Hasyim juga berpesan: meski anak dan santri-santri itu memiliki kenakalan yang bagaimana pun, supaya dosa-dosa dan kesalahan mereka dima’afkan.

Agar mereka tetap mempunyai kesempatan untuk menjadi muslim yang saleh dan muslimah yang salehah. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa, saudara sejati adalah yang senang atau menderita dirasakan bersama-sama. Akan sifat beliau yang lemah lembut tersebut, Kiai Hasyim pernah memberikan alasan kepada beberapa santrinya bahwa, orang yang temperamental itu akan berhasil tapi sedikit kawannya. Tapi jika orang yang berakhlakul karimah dan lemah lembut (hilm), itu berhasil dan kawannya banyak.

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar