Kiai Miftah Kajen

Beliau KH. Miftah Kajen yang punya nama asli Mohammad Miftah lahir di Desa Kajen Kecamatan Talang Kabupaten Tegal pada hari Senin, Tanggal 6 Juni 1920 & wafat 7 November 1994, dalam usia + 74 tahun. Bpaknya bernama KH. Mahmud sedang Ibunya bernama Ny. Naimah (setelah haji ganti nama menjadi HJ. Halimah) binti Yahya.

Miftah merupakan anak ke 8 (anak ragil) dari keluarga KH. Mahmud. Anak pertama bernama Ny. Mazinah, anak kedua KH. Mawardi, anak ketiga H. Mawali, anak keempat Ny. Mariah, anak kelima Hj. Solihah, anak keenam Ny. Maemunah, anak ketujuh Abdul Makin (H. Abdul Qodir) dan anak kedelapan atau anak terakhir adalah Mohammad Miftah atau kita kenal KH. Miftah yang pada setiap tahunnya diperingati Haulnya.

Bila kita runut silsilah KH. Miftah dari jalur ayah maka akan sampai pada Sultan Agung Raja Mataram Islam yang berkuasa pada tahun 1613 – 1645, karena ayah KH. Miftah yang bernama KH. Mahmud adalah putra dari H. Ashor. H. Ashor putra dari H. Raden Abas. H. Raden Abas adalah putra adalah putra dari pangeran Haryo Notopoero. Pangeran Haryo Notopoero putra dari Raden Ayu Boeminoto yang merupakan anak dari pangeran Haryo Pakoeningrat/Pangeran Haryo Teposono. Sedangkan Pangeran Haryo Teposono adalah putra dari Kangdjeng Soesoehoenan Hamangkurat mas (atau Sunan Mas). Hamangkurat mas putra dari Hamangkurat II dan Hamangkurat II putra dari Hamangkurat I. Sedangkan Hamangkurat I putra dari Sultan Agung Raja Mataram Islam.

Miftah ditinggal ayahnya pada saat masih berumur 3 tahun dan ditinggal ibunya, Ny. Naimah (Hj. Halimah) pada saat berumur 6 tahun.

Setelah KH. Miftah berumur 8 tahun (setelah dikhitan), sebagaimana penuturan Ibu Ny. Hj. Umi kulsum (istri KH. Miftah), beliau ikut kakaknya yang bernama KH. Mawardi di Pekalongan tepatnya di Jl. Kergon kenayagan Gang III No. 15 Pekalongan. Disana disamping membantu pekerjaan kakaknya, juga belajar dan mengaji kepada kakaknya, karena maklum KH. Mawardi adalah pengasuh Pondok Pesantren yang mengasuh santri sekitar 100 orang. KH. Mawardi adalah murid dari Mbah Kholil Bangkalan Madura. Ilmu yang di perdalam oleh KH. Miftah waktu di Pekalongan adalah Al-Qur’an dan ilmu nahwu shorof.

Menurut kiai Abdul Muhyi (putra KH. Mawardi) KH. Miftah di pekalongan sudah mulai menghafal Jurmiah, Imriri, dan Alfiah Ibnu Malik sehingga pada usia 11 tahun KH. Miftah sudah khatam Alfiah Ibnu Malik dan hafal diluar kepala.

Setelah mengikuti kakaknya di Pekalongan + 2 tahun, KH. Miftah mulai nyantri dari arah barat tepatnya di Pondok Pesantren Kempek Cirebon. Konon nyantri / mencari ilmu dari arah barat adalah salah satu persyaratan dari gurunya agar dalam mencari ilmu bisa sukses. Di Pondok Pesantren Kempek Cirebon beliau nyantri selama 2 bulan.

Setelah di Kempek, KH. Miftah melanjutkan pengembaraan dan perjalanannya mencari ilmu. Menurut menantunya, H. Bahrudin, sebelum KH. Miftah ke Jawa Timur, KH. Miftah sempat mampir di Pondok Pesantren Watu Congol, Magelang, asuhan Mbah Dalhar. Dari Watu Congol Magelang terus berangkat ke Lirboyo kediri melalui Semarang. Dari Semarang menuju Nganjuk, kemudian ke Pesantren Hidayatul Mutadiin Lirboyo Kediri. Pada waktu itu pengasuhnya adalah KH. Abdul Karim atau mashur juga disebut Mbah Manaf. Di Pesantren Lirboyo, KH. Miftah nyantri disana + 21 tahun. Menurut bapak H. Khidir (sahabatnya), KH. Miftah waktu pulang ke kampung halaman, sudah seperti bujang tua karena lamanya di Pesantren. Menurut sebagian riwayat selama 21 tahun di Lirboyo tidak pernah pulang ke rumah, ada lagi yang mengatakan cuma 1 kali.

Pengabdian KH. Miftah dan perjuangannya pada masyarakat.

Mengajar di masjid Al-Rodhoh dan ndalem

Setelah menikah dengan Ny. Hj umi kulsum KH. Miftah tidak ikut istrinya di Desa panggung tetapi justru sebaliknya Ibu Ny. Kulsum hijrah ke Kajen atau ikut dengan suaminya disana beliau memulai kehidupan barunya bersama istrinya dan mulai mengabdikan diri kepada masyarakat awalnya Ny. Hj Umi kulsum yang pertama kali mengajarkan Al-Quran dan Qiro’at atau lagu-lagu membaca Al-Qur’an setelah itu berjalan ada beberapa masyarakat yang mengusulkan agar KH. Miftah mengajar untuk kegiatan masyarakat yang berbasis keagamaan akhirnya beliau memulai membuka pengajian tafsir jalalain bertempat dirumah sendiri, setelah 10 hari KH. Miftah mengajar ngaji di rumahnya mertua beliau yaitu H. Zuhdi mengusulkan agar pengajian di pindah di masjid Al Rodloh, pengajianpun di pindah ke masjid Al Rodloh sampai menjelang wafatnya beliau. Jam mengajar KH. Miftah saat hari biasa (bukan bulan ramadhan) meliputi batas sholat subuh-07:00, jam 09:00-dzuhur ba’da dzuhur-14:00 ba’da isya-jam 23:00 ba’da shubuh kitabnya tafsir jalalain selain ba’da shubuh kitabnya terserah dari permintaan santri, misal kitab ikhya, fathul wahab dan sebagainya.

Sebagai seorang ulama disamping mengajar santri di ndalem KH. Miftah juga tidak lupa mengembangkan ilmu agama melalui pendidikan formal, diantaranya mendirikan yayasan Taman Penawaja (pendidikan ahli sunnah waljamaah) yang membawahi pendidikan formal dari SD, SLTP, dan SMU. Dalam perkembangannya Penawaja mendapatkan sambutan dan respon positif dari masyarakat.

Setelah berhasil mendirikan Yayasan Taman Penawaja, KH. Miftah juga terlibat dalam mendirikan Perguruan Tinggi Islam di Kabupaten Tegal. Dulu bernama IBN (Institut Agama Islam Bakti Negara) sekarang bernama STAIBN (Sekolah Tinggi Agama Islam Bakti Negara).

Hanya satu di dunia ini yang manusia tidak bisa menolak yaitu kematian. Siapapun orangnya, pangkat dan martabatnya tinggi sekalipun tetap saja ia akan meninggalkan dunia ini. Bertepatan pada hari Senin tanggal 7 Nopember 1994 Allah SWT memanggil ke hadapanNya. KH. Miftah telah pergi menghadap keharibaan Ilahi Robi untuk selama-lamanya. Alam seolah bergetar mendengar wafatnya seoarang Ulama, masyarakat berduyun-duyun untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya jama’ah sholatpun berlipat-lipat hingga 108 ambalan. Terlihat dari jamaah ada yang terus meneteskan air mata seolah berat sekali berpisah denagn kiai yang membimbingnya setiap hari tanpa lelah, mencapai kemanusiaan yang sejati, mengayomi dan mengingatkan agar kita selalu dekat dengan Tuhan.

Pesan dan Pandangan KH. Miftah

Jangan meninggalkan Ilmu Agama, hidup adalah perjuangan, sholat jangan di tunda-tunda, hidup denga nilai-nilai keluhuran walaupun kecil, amanat untuk meneruskan pegajian, dan medorat dengan kelompok lain.

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar