Kyai Irfan bin Musa Mencari Ilmu

2.) Masa Mencari Ilmu

Disaat menginjak usia 15 tahun beliau berangkat ke kota suci Makkah. Di Makkatul Mukarramah, beliau belajar mengaji berbagai kitab dari para ulama masyhur di sana selama kurang lebih 15 tahun lamanya dan berkesempatan menunaikan ibadah haji setiap tahunnya selama beliau mukim di sana.

Nama-nama ulama yang mengajar beliau antara lain ; Syech Muhtarom Nahrawi dan Syech Mahfudz bin Abdullah Attarmasy.

Meskipun Kyai Irfan sudah lama mukim dan belajar ilmu-ilmu agama pada ulama-ulama masyhur di Makkah selama masa 15 tahun, tetapi sikap tawadhu’ dan menghormati kepada sesama apalagi kepada yang lebih tua tetap dijaga dengan baik. Sikap tawadhu’nya itu ditunjukkan misalnya dengan kesediaan beliau untuk menambah ilmunya kepada ulama Indonesia, sepulangnya dari belajar di Makkah, beliau pada setiap bulan Ramadhan masih bersemangat menambah ilmu di Ponpes Dondong, Mangkang Wetan, Tugu, Semarang.

Kyai Musa, ayah Kyai Irfan, adalah salah seorang pedagang emas di Semarang. Pada waktu itu, konon, cara berdagang emas seperti layaknya orang berdagang kacang goreng, yakni jual-beli emas itu dilakukan dengan cara memakai takaran tidak seperti alat timbang emas yang kita kenal sekarang. Usaha dibidang jual-beli emas ini juga menandakan bahwa Kyai Musa sebetulnya tergolong orang yang cukup kaya waktu itu.

Setelah Kyai Musa wafat, maka sebagaimana ajaran agama Islam, harta bendanya pun dibagi-bagi menurut aturan hukum waris Islam. Setiap anak mendapatkan bagian sesuai dengan haknya. Dari hasil pembagian tersebut kemudian dikembangkan untuk mendirikan pabrik batik bersama saudara-saudaranya.

Akan tetapi, akhirnya Kyai Irfan tidak mempunyai minat terhadap harta benda, yang diutamakan adalah ilmu, karena itu yang selalu dicarinya adalah ilmu. Gairahnya pada ilmu yang sangat besar itu, membimbingnya pada keputusan untuk menitipkan harta bendanya kepada kakaknya, Kyai Abdul Rasyid untuk mengembangkannya. Jika beliau memerlukan uang sekedar untuk kebutuhan membeli kitab dan sebagainya, beliau hanya meminta uang secukupnya kepada kakaknya itu. Hal itu berlangsung sampai beliau membina rumah tangga, segala kebutuhan rumah tangga dicukupi oleh kakaknya (dari hasil usaha bersama saudara-saudaranya).

Alkisah, ketika saudara-saudara Kyai Irfan tengah membicarakan masalah duniawi, adiknya, yaitu Kyai Ridwan (ayah KH. Asror Ridwan) melihat bahwa kakaknya, Kyai Irfan sedang menuju ke arahnya. Melihat gelagat kedatangan Kyai Irfan ini mereka lantas menghentikan pembicaraannya itu, takut kalau diketahui oleh beliau. Beliau memang tidak suka mendengar orang-orang membicarakan masalah duniawi, meskipun itu saudara-saudaranya sendiri. Kesukaan Kyai Irfan hanya kepada masalah ilmu dan membenci kepada harta benda. Allah telah mengangkat derajatnya menjadi orang yang sangat berwibawa. Karena wibawanya itu, bukan saja beliau disegani oleh orang banyak tetapi juga oleh saudara-saudaranya sendiri.

Ikhtiar Kyai Irfan dalam mencari ilmu tidaklah dilakukan dengan bermewah-mewahan atau bersenang-senang seperti menyukai makanan-makanan enak dan berpakaian bagus, akan tetapi yang dilakukannya adalah justru menghindari segala makanan yang dirasakannya enak cita rasanya serta tidak mau memakai pakaian yang bagus-bagus. Karenanya, saat beliau mukim di Mekkah, beliau membiasakan diri dalam hal menanak nasi dengan mencampurkan pasir pada beras yang ditanaknya. Beliau melakukan itu agar tidak merasakan kelezatan dan agar lama habisnya. Perilaku seperti ini menandakan bahwa beliau sebetulnya termasuk “mutashawwif” orang yang terikat oleh tabi’at ajaran-ajaran suatu thariqah. Dan menurut anak keturunannya, beliau memang mengamalkan ajaran thariqah Syathariyyah.

Comments

So empty here ... leave a comment!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar